Chapter 1 – Sma dan Sheila

Pagi itu, seperti biasa, kelas dimulai pukul 7 kurang seperempat. Siswa juga harus datang minimal 10 menit sebelum bel berbunyi atau silakan uji nyali dengan Bu Nur Cholilah selaku Penanggung jawab kedisiplinan siswa, siap-siap saja mendapat pertanyaan-pertanyaan seru yang memicu degup jantung karena nekat datang telat.

“Hosh..hosh..”

5 menit sebelum bel, terlihat ada seorang siswa yang berlari bak kereta luncur bermesin turbo melintas berbagai aral-rintangan yang membentang di luar sana. Tepat ketika bel hendak dibunyikan, sang roket hidup sukses mendarat melewati gerbang sekolah.

“Yesss!! Nyaris!!” pekiknya kegirangan karena tidak terlambat lagi setelah beberapa bulan berturut-turut mencetak rekor sebagai peraih poin keterlambatan terbanyak sepanjang masa. Sampai-sampai ia harus menandatangani MoU bermatrai 6000, supaya kelakuan si kucing garongnya tidak terulang lagi.

“Well…ewel..ewel…” Bu Nur memicingkan mata mengamati Sheila dari ujung kerudung sampai jempol kaki. “Bagus, kamu tidak terlambat lagi,” puji Bu Nur, oknum yang dipuji itu pun senang bukan kepalang.

“Kalau begitu, saya boleh masuk kan, Bu? Ndak usah ke BK lagi, begitu?”

“Siapa bilang? Kamu tetap ke BK! Lihat itu, sepatu kok warnanya bening! Kaos kaki merah menyala, kamu pikir kamu mau apa? Konser?” pelototan serem kembali muncul menghiasi wajah sang guru.

Sheila cengengesan, ia benar-benar lupa kalau hari ini bukan waktu yang tepat untuk memakai jelly shoes bening plus kaos kaki Manchester United. Harusnya ia memakai sepatu kanvas kuning dengan kaos kaki 101 Dalmatian yang entah kenapa penyebutannya masih dalam kontroversi antara 101 dengan 100 Dalmatian. Yang pasti, Sheila suka coraknya yang putih bertotol itu.

“Oke..Oke…BK, l’m coming…” ujarnya seraya beranjak menuju ruang BK yang terletak beberapa kaki dari tempatnya berdiri.

***

Sesudah mengurus ini-itu di Ruang Bimbingan Konseling yang mengharuskannya bertelanjang kaki karena sepatu kesayangan disita, Sheila menuju kelasnya di Lab Biologi.

“Loh..loh..loh…ada apaan nih?” tanyanya dengan mode bloon karena semua siswa kecuali dirinya sedang sibuk dengan selembar kertas penuh soal biologi yang tengah dibagikan oleh Pak Aan Subandi.

“Loh..loh..kamu itu tidak punya sopan santun apa? Kok tidak salam dulu!” semprot guru yang selalu bangga meneriakkan instruksi ‘silakan lihat di blog saya’ tiap ada materi baru perihal pelajaran Biologi itu.

“Mangap pak..eh, maap pak..hehehe…saya barusan dari BK, biasa..fesyen syo..” jelas Sheila sok aksi yang hanya mendapat pelototan tak bersahabat dari guru berusia 5o-an itu.

“Ya sudah, saya tahu rekormu, sekarang cepat ambil pulpen, ada ulangan mendadak!” perintah sang atasan yang hanya direspon dengan senyuman asimetris -bibir naik sebelah- oleh Sheila.

***

Pages: 1 2 3

Leave a Reply