Chapter 3 – Move for Love Fate
Sepulang sekolah, Sheila mengikuti Les Tambahan, maklum, persiapan untuk UNAS yang rumornya akan ditambah mata pelajarannya menjadi 6. Hal tersebut tentunya menghasilkan protes keras, baik dari pihak siswa, orang tua, maupun guru-guru. Takut angka ketidaklulusan semakin melonjak.
Salah satu korban ketidakbijakan Pemerintah - Sheila- pernah terlibat sebagai ‘motor-demo’ disekolahnya menolak sistem terbaru tentang Ujian Nasional tadi. Tapi toh percuma, suara rakyat tidak didengar dan Pemerintah tetap saja menaikkan standar pendidikan yang katanya sih supaya sama dengan standar yang diterapkan pada negera tetangga. Menyusahkan saja.
Sheila dan korban lainnya jadi hanya bisa belajar dan berdoa, serta berusaha semoga bisa lulus tahun ini.
“La! Chatting mulu, dengerin gurunya bentar kek!” Jannah - teman sebangkunya- mengingatkan, Sheila Cuma menatap sensi. “Teserah dong, nanti juga direview di rumah” ujarnya berbohong, karena sangat tidak mungkin jika 10 jam dari pagi sampai sore harus sekolah, dilanjutkan kegiatan rutin pukul 18.00 sampai 20.30 ikut Les tambahan di LBB terdekat, bagaiman bisa mereview pelajaran dirumah? Pasti tinggal capeknya saja.
Sheila memang saat itu sedang asyik chat dengan teman-teman Bloggernya -ya Doni, ya Gembel, ya semua deh pokoknya- sampai menelantarkan kewajiban utamanya, belajar.
Sebenarnya, sudah 3 bulan Sheila mengikuti Les Tambahan di LBB dekat rumahnya sekarang, tapi suasana belajar yang tidak kondusif, alias banyak teman-teman yang satu sekolah, membuatnya enggan. Kegaduhan yang ditimbulkan merusak suasana belajar.
“La, aku kok nggak enak ya les disini? Kayaknya udah pada kenal, jadi rame mulu bawaannya,” Diera tiba-tiba nyeletuk sambil menepuk keras bahu Sheila, otomatis awewe yang sedang asyik chat dari balik bukunya berjingkat kaget dan menjatuhkan hape sampai ditegur tentor yang sedang mengajar.
“Hikzzz…Kamu ngagetin aja, Dier! Dasar Kadir!” Sheila manyun. Diera meringis, “Maap, orang Cuma curhat kok, ndak maksuuud,”
“Jadi maunya apa?” Sheila ternyata merespon juga omongan Diera.
” Yaaa, tau Bonansha Operation khan? Itu loh, yang deketnya SMA 5, katanya disitu buka pendaftaran untuk bimbingan Unas. Kesana aja yuk…Pindah,” Diera menyarankan.
Sheila tampak berpikir, tumben sekali manusia sepertinya menggunakan akal pikiran untuk memutuskan sesuatu. Biasanya main insting seperti srigala liar yang memang tak punya pilihan lain.
“Um, aku bilang ayahku dulu deh, pembayaran disini kahn belum lunas…”
“Iya deh, pendaftaran ditutup tanggal 25 loh, jangan lama-lama yah!”
“Yup,”
***
Sesampainya dirumah, Sheila menemukan brosur yang mungkin terbawa angin atau memang sengaja disebar-sebarkan begitu saja oleh para pengagguran yang dibayar untuk menghabiskan bertumpuk-tumpuk lembaran promo ke setiap penjuru kota. Mendapat uang dengan hanya membuang kertas-kertas seperti itu memang pilihan tepat jika sekedar ingin melahap bakso favorit tanpa mengeluarkan biaya, bukannya menyebar, brosur yang diamanahkan untuk dibagi-bagikan ke khalayak ramai malah terkesan dibuang begitu saja sampai terbawa angin ke tempat yang tidak jelas.
“Bonansha Operation” Sheila membaca tulisan yang tertera pada kertas merah muda yang digenggamnya. Disana ia menemukan biaya sekaligus jadwal les yang menarik, hanya seminggu sekali, otomatis ia tak harus menghabiskan malam-malamnya untuk mengikuti tambahan belajar lagi, karena les di B.O - inisial dari Bonansha Operation- hanya berlangsung setiap hari sabtu pukul 14.00- 18.00.
“Wah, asyik nih, malemnya bisa puas tidur kalo gitu,” Sheila cekikikan seperti nenek sihir. Tanpa menunggu komando dari presiden, Sheila langsung meminta ayahnya untuk mendaftarkannya di bimbingan tersebut. Berjuta alasan dikemukakan supaya ia bisa lepas dari LBB tempatnya les selama ini. Selain sebagai ajang terbaik untuk persiapan Unas, letak B.O yang lumayan di tengah kota, 45 menit perjalanan dari rumahnya membuat Sheila exited karena bisa sekalian jalan-jalan tiap minggu keluar dari kampungnya.
“Yah, terserah kamu, nduk, yang penting belajar yang rajin,” begitu jawab ayahnya. Sheila semakin diatas angin mendengar kesediaan ayahanda sebagai penyandang dana utama kehidupannya itu. Langsung saja ia melakukan registrasi via telepon yang kemudian bisa langsung melakukan transaksi di kantor cabang terdekat sehingga dapat segera memulai kelasnya.
***
“Jadi kamu udah daftar di B.O? Cepet banget?” Diera terbelalak, karena ia saja masih belum mendapat restu orang tua untuk hijrah ke wilayah lain di Surabaya itu. Orang tua Diera memang agak protektif dan tidak ingin anaknya pulang sampai larut malam gara-gara macet di jalan.
“Ortuku emang nggak asyik!” ia mengumpat, Sheila terkikik, “Sabar buu…udah, les disitu aja juga gapapa kahn, lagian juga ada Romi, jadi sekalian minta antar-jemput yayang tiap hari kalee,”
“Ye! Itu yang bikin males, gerah juga lama-lama tauk! Kamu enak, bisa tepe-tepe ke anak-anak SMA Komplek,” cuap Diera iri. Sheila langsung mengibaskan tangan,”Sori laaah, ndak level, caari tuh yang udah mahasiswa, bisa buat tameng disegala cuaca,”
Diera mencubitnya gemas,”Huuuh, aneh-aneh aja deh, eh, gimana? Masih sama cowok kamu yang di ITP itu?”
“Oh, yaiyalah…masa hari gini ama anak SMA, Hehehe..”
“Dasaaaar! Gitu aja pake protes-protes kalo nggak disms pagi-sore,”
“Iya juga, Dier..Kadang-kadang kesel. Habisnya itu manusia kayak kelelawar, hidupnya malem, pagi-sore tidur. Ampun deh!” Sheila geleng-geleng kepala.
Diera tersenyum, “Tapi namanya juga cinta, apapun-gimanapun tetep aja ok! Hihihi..”
“Huff, makan ati juga deh sebenernya,”
“Terus? Putusin aja gih, nyari yang baru. Hahahaaa….” Diera bicara ngawur, Sheila tampak mengernyitkan alis.
“Putus? Belum pernah kepikiran buat putus serius sih, emang pernah dulu sampai 2 kali. Tapi besoknya aku yang nyambung lagi,”
“Emang dasar nggak niat putus,”
“Lha masih sayang, gimana lagi…” Sheila membela diri.
“Pikir aja deh, daripada tiap hari kayak kambing congek jarang dikasih perhatian, ya mending nyari aja yang lebih care ke kamu, terserah siiih…” Diera menyarankan, Sheila menghela nafas panjang.
“Nggak segampang itu kali, Dier. Banyak yang harus dipertimbangkan,”
“Hm, yaudah deh. Moga aja sepindahnya kamu ke B.O, pergaulanmu jadi lebih luas, terus dapet gebetan baru deh, asyik kahn…Aku doain!!” Diera bersemangat.
“Hahaha, dasar! Iya deh, doain ajah!” Sheila mengiyakan saja ucapan ngawur Diera. Tapi ia tidak menyangka bahwaa doa-bercanda Diera itu bisa saja terkabul dan akhirnya ia mendapat pasangan lain yang lebih dari segala-galanya.
-XOXO-
August 28th, 2008 at 10:30 pm
bisa ya chatting di kelas?
September 1st, 2008 at 7:18 am
OOT: Kepada rekans smuah, Iis dan keluarga mengucapkan selamat menjalan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, semoga amalan rekans semua berkah dan mendapat imbalan yang setimpal dari Alloh SWT. Amiieen.
September 2nd, 2008 at 12:46 pm
@ Chic: bisa donkz!! kan gaul gitoo hehehe….
September 2nd, 2008 at 12:46 pm
@ Chic: bisa donkz!! kan gaul gitoo hehehe….
@ IIS: iya mbak, sama-sama