Chapter 4 - Cowok = Cek-Cok

Cowok Sheila, namanya Irwan. Ia mahasiswa D3 Mesin ITP. Lebih dikenal sebagai anak Demit - istilah keren dari D3 Mesin ITP- yang sekarang sedang fokus ke Tugas Akhirnya.

Perawakannya sederhana, bahkan tidak terbilang cakep maupun manis. Tapi entah kenapa Sheila jatuh hati padanya. Mungkin gara-gara zodiaknya Scorpio dan pembawaannya yang cuek sekaligus cool benar-benar bikin Sheila terkesima dan akhirnya menyatakan hal yang sama sewaktu cowok itu mengungkapkan bahwa ia sayang Sheila.

“Jadi bisa anter aku les kahn, beib?” tanya Sheila sewaktu Irwan melakukan ritual rutin pacaran - apel petang- tiap hari sabtu.

“Kapan?”

“Yah tiap sabtu, jam 2 sampe jam 6.”

“Lama banget sih!” Irwan protes karena tidak mungkin ia menunggu sang tuan putri selama itu tanpa melakukan apapun.

“Ya, gimana lagi, kahn emang seminggu sekali, jadi langsung blek segitu.” Jelas Sheila, Irwan tampak berpikir sambil menyeruput kopi buatan Sheila yang diseduh khusus untuk sang pujaan hati tersebut.

“Kapan mulai les?”

“Minggu depan dong, sayang..”

“Gini deh, aku anter kamu, terus aku pulang. Nah, kalo udah mau balik, sms aja, nanti aku jemput,”

Sejenak, Sheila mencoba menelaah maksud Irwan, namun apa daya IQ jongkok Sheila kumat. Alhasil, mereka harus langsung melakukan studi lapangan daripada main teori yang hanya membuat gadis manis berkerudung itu pusing tujuh keliling.

Untung saja rencana melakukan studi lapangan berhasil dengan sukses. Dan kehidupan tanpa malam minggu pun dilalui Sheila sampai 6 bulan ke depan ketika Unas benar-benar akan dihadapi. Bagi Sheila tentu tidak masalah, karena toh ia juga diantar sang pujangga cinta. Ternyata, hal sama tak dirasa Irwan, semakin lama, cowok itu merasa hanya sebagai sopir yang menuntut untuk disejahterakan. Hal ini mengejutkan, karena Sheila tidak pernah memikirkan bahwa Irwan akan sejahat itu padanya, tentu saja acara antar-jemput Sheila berantakan, sampai Sheila memilih menyetir sendiri daripada cowoknya semakin merasa lelah padanya.

***

“Aku kok merasa Cuma jadi sopir kamu sih?” ujar Irwan tiba-tiba yang tentu saja membuat Sheila terbelalak kaget.

“Teganya kamu bilang gitu,” Sheila tampak tak percaya.

“Iya, kita nggak pernah malem-mingguan, kamu minta antar-jemput aja, tanpa mikirin gini kek, gitu kek,”

“Aku kahn capek, beib….pulang malem, sedari siang belajar, ndak sempet,”

“Kamu selalu bilang gitu, ndak sempet, ndak sempet. Coba kalo aku yang bilang ndak sempet. Kamu marah kahn? Trus siapa yang nganter kamu?” Irwan mulai mengungkit-ungkit jerih payahnya.

“Apa? Kok kamu jahat banget sih, yaudah lah, minggu depan nggak usah anter aku. Aku bisa sendiri!” Sheila memutuskan dan langsung turun dari jok motor karena mereka memang sudah sampai tepat di depan gang rumah Sheila. Tanpa babibu, Sheila menuju rumahnya, dilanjutkan Irwan yang langsung balik arah tancap gas menjauhi kediaman ceweknya.

***

“Hiiikz, teganya dia bilang gitu, Ken….” Sheila terisak ketika menelepon Keken. Sudah hampir satu jam ia curhat pada sahabatnya itu mengenai cowoknya yang tiba-tiba jahat tersebut. Ia benar-benar tak pernah menyangka bahwa Irwan ternyata tidak ikhlas mengantarnya. Mungkin gara-gara jam kerja yang mengharuskan Irwan begadang sampai pagi lalu mengantar Sheila cukup membuatnya stess karena kurang tidur yang katanya membuat orang cepat naik darah. Tapi Sheila tidak mau memikirkan alasan-alasan logis seperti itu, yang ia inginkan hanya dukungan dan kasih sayang, apalagi setelah ini ia harus menghadapi berbagai tes, ya Unas, ya SPMB. Benar-benar tahun yang melelahkan.

“Sabar ya, say. Mungkin waktu itu dia lagi sensi gara-gara apa gitu,” Keken menasihati. Sheila tidak terima, “Tetep aja, jangan ngungkit-ngungkit kayak gitu kahn, aku ini CEWEKNYA! Bukan Temen apalagi Pembantunya, Ken!”

“Iya, iya…yaudah, tenangin diri dulu oke. Besok coba ngomong baik-baik…”

“Hikzz, iya deh, lagian pulsaku bengkak nih, yaudah ya, tengkyu..”

“Hihihi..dasar….Iya, sampe ketemu besok di sekolah ya, daaaagh”

“Daaagh”

Setelah bercakap-cakap melalui telepon dengan Keken, Sheila tidak puas begitu saja, ia mengaktifkan Ymnya sebagai media pelampiasan lain.

Begitu ia membuka aplikasi Slick, tangannya sudah siap untuk mulai chatting.

. Click here to connect to ym

. Initializing

. Authentication

- Arek CID

- Arek Blogger

- Arek Sma

- Arek-Arek liyo

Sekilas, baginya tidak ada teman yang menurutnya oke untuk diajak curhat. Memang member yang ada dalam Ymnya cukup banyak, yang online juga lumayan, tapi ia sama sekali tidak punya sahabat untuk berbagi cerita ketika sedih.

Kiwi_85 : Hei, ketemu lagi..

Pinkiesh666 : Hm, iya..

Kiwi_85 : Statusmu, kenapa tuh?

Pinkiesh666 : Oh, gpp

Kiwi_85 : Bener nggak mau cerita?

Pinkiesh666 : Huff, gapapa ko. Kapan-kapan aja deh, udah dulu ya….

Kiwi_85 : Oh, yaudah, kalo mau sharing. Kapanpun bisa kok. Tenang aja, aku bisa jaga rahasia kok..

Pinkiesh666 : Iya, thanks. Byee..

Kiwi_85 : Byee :-h

Sheila masih belum memercayai Gembel sebagai teman curhatnya, karena memang mereka baru saja kenal. Tidak mudah mengungkap perasaan pada orang yang menurtnya masih asing.

Sebenarnya, perseteruan Sheila dengan Irwan tidak hanya itu. Sheila juga sering makan ati kalau cowoknya itu mulai asyik berdebat mengenai berbagai macam hal. Termasuk feminisme dan masalah yang sedang hangat-hangatnya seperti kenaikan BBM sampai perjanjian ekstradisi dengan Singapura.

Argumen anak SMA tentu saja kalah dibanding mahasiswa yang sudah menginjak semester akhir. Mengetahui hal itu, cowok Sheila tetap tidak mau mengalah dan malah terkesan memojokkan pendapat Sheila jika gadis itu berbeda perspesi dengannya. Lain halnya jika mereka sepakat akan satu hal. Irwan akan sangat bangga dan memuji-muji Sheila karena bisa memiliki pemikiran yang sama dengannya.

-XOXO-

Leave a Reply