Chapter 5 – Unas Semakin Dekat
Tidak terasa Unas semakin dekat saja, jika dihitung-hitung, hampir 3 bulan lagi Sheila dan kawan-kawan harus menghadapi Ujian Nasional yang menentukan masa depan mereka untuk selamanya itu.
“Hei teman-temaaaaan, Unas semakin dekat aja, tau gak sih lo…” cerocos Heri ketika jam pelajaran kosong.
“Yaiyalah, masa yaiya dooong…” Sheila dan kawan-kawan nyeletuk.
“Hushh!!” Sambil berlenggak-lenggok seperti uler keket, Heri kemudian meneruskan bicaranya,”Nah, kita kahn dulu pernah ke Sunan Ampel sama Sunan Giri, sekarang gimana kalo kesana lagi?”
Penghuni kelas XII IPA 2 terdiam sesaat, ada yang tidur, ada yang pacaran, ada yang ngupil sembarangan. Pokoknya aneh-aneh kerjaannya. Heri yang merasa dicuekin tentu saja meledak.
“Woooooey! Pada denger nggak sih! Kita ke Sunan Ampel lagi yok, gimana kalo hari Sabtu,”
“Sabtu aku les, Her” Sheila keberatan. Teman-teman yag lain sih manggut-manggut sepakat. Asal mereka tidak kebagian mencarter mobil saja untuk transportasi anak-anak lain yang tidak punya motor. Males repot.
“Terus gimana? Kamu kan gak pernah ikut, masa kurang 3 bulan aja gak ikut lagi?” Heri memaksa sambil memainkan kipas yang dipinjamnya dari Rani.
“Iya, La! Ikut aja gih, bolos sehari gak papa kahn,” Fatimah mengompori.
Sheila memutar-mutar bola matanya dan akhirnya menyetujui.
“Iyes! Kalo gini kan enak, jadi semua bisa ikut. Yaudah, nanti urusan carter mobil, serahkan ke Itoer,” Heri asal tunjuk hidung orang saja. Itoer tentu saja tidak terima ,”Kok aku sih,”
“Iya gapapa kahn, Bu…Katanya deket rumahmu ada sopir angkot, yaudah, nyarter itu aja,”
“Huuh, iya deh, aku usahain,” Itoer akhirnya bersedia tapi dengan manyun.
Rencana mereka untuk berziarah pun hampir tanpa kendala, tinggal mengundang Pak Ghazali - Guru Agama Mereka - saja sebagai pembimbing rombongan IPA 2 mendoakan Sunan- Sunan yang telah wafat.
***
Ketika pelajaran berikutnya berlangsung - Kimia- Sheila mengaktifkan Ymnya untuk pamer status pada teman-temannya bahwa hari Sabtu, ia akan berziarah ke Sunan Ampel. Tak disangka, cowoknya juga sedang online.
Greenish : Mau ke Sunan Ampel non?
Pinkiesh666 : Iya sayang, :-*
Greenish : Kapan? Sama siapa?
Pinkiesh666 : Ma temen2 Beib…
Greenish : Ati-ati ya, kamu nggak les?
Pinkiesh666 : Bolos, hehe..
Greenish : Hm, yaudah, asal nggak keseringan aja. Aku cabut dulu ya, mau asistensi sama dosen. :-h
Pinkiesh666 : He’eh, Ati2 ya say, :-h
Greenish : Yup. Aku sayang kamu
Pinkiesh666 : Iya, aku juga :”>
.Greenish is offline
Mengetahui cowoknya sudah offline, Sheila jadi mencari teman-temannya yang lain. Itu juga secara sembunyi-sembunyi, karena guru Kimianya, Bu Musinem juga sedang mencari korban untuk dipermalukan di depan kelas dengan soal-soal Reaksi Oksidasi buatannya.
Kiwi_85 : Sheila..
Pinkiesh666 : Hei, mas Gembel.
Kiwi_85 : Ngapain ke Ampel =)) jualan Roti Maryam?
Pinkiesh666 : Ye, enk aja! Ziarah tau >_<
Kiwi_85 : Hehe, kirain, eh, sekalian aja ikut kopdar KPC. Pak Abdul juga ikut loh…
Pinkiesh666 : Hah? Jam brp?
Kiwi_85 : Sore gitu, usahain ya! Kalo beruntung bisa ketemu aku lagi ![]()
Pinkiesh666 : Ye..Hahaha… iya deh, demi senyummu *cuih*
Kiwi_85 : Haha, dasar! Yaudah, sana belajar! Waktunya skul kok ol terus!
Pinkiesh666 : Hihi, iya deh, off dulu ye, byee :-h
.Application is closed
Sheila sudah pernah ketemu Gembel beberapa waktu lalu ketika sedang bertengkar dengan Irwan sehingga tidak ada yang mengantarnya Tryout di B.O, waktu itu, motornya juga sedang dipakai adikya sekolah, otomatis ia tidak bisa berangkat sendiri ke tempat lesnya. Iseng ia curhat ke Gembel dan akhirnya mahasiswa berambut gondrong itu mau juga mengantarnya meski Sheila harus naik angkot dulu ke Balai Pemuda sehingga Gembel bisa menjangkaunya. Maklum, rumah Sheila yang ada di pinggiran Surabaya membuat orang enggan untuk sekedar menjemput tanpa tahu apakah alamat tersebut nyata atau hanya fiktif belaka.
“Sheila, kerjakan soal nomor 5,” perintah Dayang Jum - sebutan untuk Bu Mus karena mirip dengan salah satu karakter Drama Korea, Jang Geum - pada Sheila. Tentu saja Sheila yang sedari tadi chatting - tanpa menaruh perhatian sama sekali pada soal-soal kimia yang terpampang jelas pada whiteboard itu- kelabakan.
“I..iya bu…” dengan langkah gontai, ia maju ke depan kelas, diiringi tawa seluruh kelas. Untung saja ia bisa menyelesaikan soal tersebut karena mengingat cara pengerjaan yang diberikan tentor lesnya.
“Bagus, silakan duduk”
“Huff…” Seperti habis melewati malaikat maut, Sheila kembali ke tempat duduknya di Lab.Kimia dengan lega.
-XOXO-