Misunderstood
Jam Istirahat berbunyi, para siswa otomatis berhambur ke luar ruangan sekedar untuk membeli makanan, maupun berbincang santai dengan siswa lain. Mereka tidak ingin melewatkan waktu mengistirahatkan otak mereka hanya dengan berdiam diri di dalam kelas, kecuali seseorang, Kartika.
Gadis berpostur semampai itu tampak diam saja sambil menatap langit-langit kelas. Padahal, biasanya ia selalu terlihat bercengkrama dengan banyak orang, entah di kantin, maupun di mana saja. maklum, gadis seramah dan sebaik hati Kartika memang tergolong langka dan layak masuk daftar ‘teman’ bagi setiap orang yang mengenalnya. “Tik, nggak ke Kantin? Makan yuk!” Ajak Geulis tiba-tiba, Kartika yang sedang melamun itu sontak kaget. “Apa?! Emm, makasih, Lis. Aku mau di sini dulu, nggak lapar.” Tolak Kartika halus, Geulis pun beranjak ke Kantin sendirian tanpa gadis itu.
Sepeninggalnya Geulis, Kartika tampak merenung kembali. Masih tetap saja, tidak ada yang tahu mengapa Kartika terdiam sepanjang hari ini. Sampai ia menuliskan sesuatu di catatannya.
“Aldi, Reno, Hendra….” Kertika bergumam sambil menuliskan nama-nama yang di ucapkannya. Tak lama, ia menggoreskan gambar hati yang diberi retakan di tengah-tengah memutari nama-nama tersebut.
“Sorry, aku sebenarnya nggak cinta kalian, guys..” Ia berdesis kembali lalu mencorat-coret ‘karya’nya tadi. Rupa-rupanya, menjadi gadis ramah dan baik hati seperti dirinya memang susah. Tidak sedikit orang yang salah menangkap kebaikan hatinya. Reno misalnya, mengklaim bahwa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama saat Kartika menolongnya sewaktu ia jatuh dari sepeda. Kartika terlihat seperti bidadari penolong yang bisa membuat Reno bahagia selamnya. Padahal,sisi kemanusiaan yang kental dalam watak gadis itulah yang mengendalikan ‘insting’ menolong Reno saat jatuh tempo hari. Ketika cowok itu menyatakan cinta pada Kartika pun, gadis itu tak sanggup menolak, tidak tega. Akhirnya terjadi kesalah pahaman. Reno pun mendeklarasikan bahwa saat ini ia berpacaran dengan Kartika.
Lain cerita dengan Aldi, ia terlanjur ge-er dan merasa bahwa Kartika naksir padanya sewaktu ada acara Bakti Sosial dan kebetulan cowok itu menjadi ketua panitia. Kartika selalu mengirim SMS setiap hari menanyakan kapan, bagaimana dan kemana saja barang-barang sumbanga akan disalurkan. Motif Katika sebenarnya murni peduli karena ia tidak ingin ada ketidakjelasan masalah pendistribusian bantuan. Namun Aldi beranggapan bahwa Kartika hanya mencari-cari alasan supaya bisa menghubunginya, padahal sebenarnya Kartika ada rasa padanya. Terjadilah ‘insiden’ kedua. Aldi menyatakan cintanya pada Kartika. Dan, masih tetap sama, Kartika tidak bisa menolak. Mereka pun pacaran secara tidak sengaja.
Kalau Hendra, malah parah. Cowok bongsor yang mengaku anak Band itu sudah naksir dari dulu pada Kartika. Kesempatan menembak Tika datang saat Hendra dikenalkan Della yang merupakan sepupu Kartika beberapa waktu lalu. Tanpa Ba-Bi-Bu, Hendra langsung menembak Kartika tepat saat mereka selesai berjabat tangan. Tentu saja Kartika tak sempat berpikir dan asal mengiyakan saja permintaan Hendra, mereka pun akhirnya jadian.
Sudah hampir sebulan ini, Kartika tidak meributkan kejadian-kejadian yang menimpa dirinya. Karena ia tidak merasa apa-apa dengan ketiganya, jadi terserah saja mereka mau menganggap status Kartika sebagai apa. Pacar,saudara, pembantu, yang penting tidak menyusahkan dirinya. Namun, ketidakpeduliannya itu malah menjerumuskan gadis tersebut. Tempo hari, secara tiba-tiba ketiganya mampir ke rumah Kartika-yang mereka anggap ‘pacar’. Mungkin, sebagian orang menganggap lumrah saja ada pacar yang bertandang kerumah, namun hal itu tidak berlaku bagi Kartika. Kalau sekedar mampir sih tidak masalah, tapi, sayangnya, mereka bertiga datang bersamaan. Awalnya, masing-masing menganggap mereka adalah tamu terpenting karena merupakan pacar sang tuan rumah. Tapi, setelah mengobrol singkat antarmereka. Barulah terkuak bahwa ketiganya merupakan pacar Kartika.
Jengkel, marah, malu semuanya bercampur aduk dalam emosi ketiganya. Kartika yang baru selesai berganti baju dan hendak menemui mereka sontak terkejut dimaki-maki dan di cap sebagai ‘cewek gampangan’ karena punya pacar segudang. Padahal, Kartika tak merasa dirinya seperti itu. Tentu saja ia shock, karena hal tersebut merupakan penghinaan pertama yang diterimanya setelah sekian tahun hidup di dunia. Semua orang menganggapnya baik, ramah, supel. Tapi ternyata kebaikannya itu yang membuat diriya menjadi tidak tegaan dan mengiyakan apa saja yang diminta darinya. Kartika memang orang seperti itu, tidak tegas, bukan gampangan. Tapi, para cowok yang merupakan ‘mantan’ Kartika tidak mau tahu apa istilah yang disandang gadis itu. Yang jelas mereka kecewa sekali akan sikap Kartika yang seperti itu.
Masih mencorat-coret catatanya, Kartika melamun kembali. Tak lama waktu berselang, airmata menitik di pelupuknya. Geulis yang baru saja dari kantin tentu saja heran melihat Kartika tersedu-sedu sendirian di pojok ruang 13 itu.
“Tik, kamu kenapa?” tanyanya sejurus kemudian, ia mengelus lembut rambut teman sebangkunya itu. Kartika buru-buru mengelap airmatanya. “Aku nggak pa-pa”
“Cewek kayak kamu kok nangis, pasti ada apa-apanya. Cerita donk, jangan dipendam ‘ndiri, ntar malah runyam looh,” saran Geulis masuk akal. Tanpa dikomando, airmata yang sempat terhenti kini mengalir kembali. Masih tersedu-sedu, Tika menceritakan penghinaan yang diterimanya, ia merasa bahwa dirinya tak bersalah, namun setelah ditelusuri kembali, mungkin memang kesalahan terbesar terletak padanya. Ia terlalu rapuh, tidak tegas. Otomatis banyak yang salah menangkap sikapnya. Geulis kembali menenagkan Kartika,” Tik, sebearnya, jadi orang ramah, bukan berarti nggak tegas. Kamu emang salah- nggak bersikap tegas, Tapi kamu jangan mau terima donk cap ‘cewek gampangan’ yang dikasih mereka. Kamu kudu ngelawan!”
“Ngelawan gimana, Lis?” Kartika tidak mengerti.
“Ngelawan, maksudnya buktiin kalo kamu tuh nggak kayak gitu. Gini deh, kamu ngomong ke mereka. Jelasin. Oke!” Ujar Geulis nbersungut-sungut.
Kartika menggeleng. “Aku nggak bisa, Lis…”
Geulis menepuk dahi gemas. “Aduuuh, gini deh, aku temeni ya! Tapi kamu yang ngomong. Masa kamu terima perlakuan mereka. Sebenernya, salah cowok itu sendiri loh, kegeeran banget!”
Kartika tampak berpikir sejenak. Ia menatap bola mata Geulis yang bundar lucu dan berkilat-kilat semangat itu. Tiba-tiba muncul keberanian dalam dirinya.
“Oke deh, aku coba kontak mereka….” Ia memutuskan sejurus kemudian. Geulis memeluk gadis itu dengan bangga,” Gitu doonk!”
***
Setelah mengirim SMS pada ketiganya, Kartika pun menunggu kedatangan mereka di Taman, ditemani Geulis. Tak lama, Tampak Aldi datang duluan, disusul menepinya mobil Reno dan diparkirnya motor Hendra yang dimodif tidak karuan itu. Ketiganya kini berjalan kearah Kartika dan Geulis.
“Busyeet, cakep-cakep, euy..” bisik Geulis di telinga Kartika, Gadis itu cemberut. ”Lis, kamu kesini mau nolongin aku ato tepe-tepe ke mereka?!” Kartika melotot. Geulis mengangkat jarinya membentuk huruf ‘V’
” Mau ngapain, Tik?!” hardik Hendra tiba-tiba. Kartika dan Geulis sontak kaget.
“Iya, belum puas mempermainkan kita bertiga?!” Lanjut Aldi kemudian. Reno hanya melotot saja.
“Guys…Plis, biarin Tika ngomong, kalo kalian sahut-sahutan mulu kapan donk Tika bisa ngejelasin?!” Geulis gemas melihat sahabatnya dipojokkan mereka bertiga.
“Oke, silakan ngomong..”
Kartika yang semula diam kini angkat bicara.
“No, Ndra, Di….aku pengin ngejelasin…Sebenernya, ada kesalahpahaman diantara kita berempat..”
“Salah paham apa? Iya, kesalahanku cuma satu. Nembak kamu!” Hendra memotong pembicaraan. Geulis tampak akan menjotos mulut cowok itu, tapi Tika mencegahya.
“Gini, No, Ndra, Di…Sebenarnya, aku nggak cinta kalian. Semua ini salah paham! Aku nggak tega nolak kalian semua! Kalian aja yang kegeeran banget nganggap aku mau aja jadian. Padahal AKU TUH NGGAK BISA NOLAK! NGERT?! Udah, itu aja yang mau aku omongin. Dan tolong…cabut kata-kata kalian yang menganggap aku ini cewek gampangan!” Kartika menjelaskan secara singkat dan langsung hengkang dari tempat tersebut tanpa menunggu respon dari ketiganya yang masih terdiam membatu di tempat masing-masing.
Kedua gadis itu sudah tak terlihat lagi di sekitar area Taman. Sudah cukup lama mereka beranjak dari tempat tersebut. Namun, ketiga cowok yang memojokkan Kartika sedari tadi masih tampak membatu. Ketiganya benar-benar kalah telak, dan merasa malu karena pemikiran masing-masing yang semudah itu menganggap Kartika suka pada mereka dan akhirnya mau jadian. Padahal semuanya hanya karena gadis itu tak sanggup menolak. Mereka benar-benar tak bisa berkatadan berbuat apapun selain terdiam.
***
“Gimana, Tik? Lega kan?” Tanya Geulis setelah meneggak habis jus lemonnya.
Kartika mengangguk. “Hemm, jadi gini ya rasanya bersikap tegas. Baru pertama kali aku ngerasaian…” cuapnya bangga. Setelah puas bercengkrama dan menikmati jus masing-masing. Mereka pun memutskan kembali pulang.
“Tik, kamu yang bayar ya..Plis…Nggak bawa duit nih.” Geulis memelas, merasa tidak tega, Tika mengiyakan saja kata-kata Geulis. Kali ini, ia kembali tidak bisa menolak permintaan yang ditujukan padanya.
August 27th, 2008 at 7:59 am
ijin baca
August 27th, 2008 at 8:32 am
iya,,,
silahkan mas!
dengan senang hati
July 5th, 2009 at 9:13 am
I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.