Nobody’s Perfect
Chasya senyam-senyum ga jelas sambil berjalan kearah Ditya- sohibnya yang paling cerewet itu. Mereka memang janjian bertemu di Gazebo Taman “Pappilon” untuk hang out di minggu sore seperti ini. Kebetulan, Chasya juga sedang ingin pamer ‘something’ pada Ditya.
“Eh, kesambet ya? Senyam-senyum gitu!” Ditya bergidik ngeri, tentu aja Chasya langsung sewot.
“Ye! Orang lagi hepi dikata kesambet! Dasaaarrr!!” protesnya manyun. “Ditanyain kek kenapa hepi gini..” Ujarnya mengomando.
“Hehehe…ya deh, kenapa sih Chasya cayaaaang?” Sambil bersikap sok manis, Ditya juga melambai kearah pelayan agar memberi mereka dua cangkir cappuccino sebagai teman ngobrol. Pelayan itupun segera memenuhi order dan memberi bonus sepiring wafel karena hari ini merupakan anniversary café tersebut.
Mereka pun menyeruput cappuccino hangat itu dan meneruskan obrolan. “Gimana? Ada gosip apa nih?” Ditya membuka pembicaraan.
“Gini lo, Dit…Em…jadi, aku tuh kali ini udah dekeeet banget sama si Ido…” Chasya memulai bercerita. Mata Ditya terbelalak hampir copot.
“Serius? Ido si anak basket itu?”
Chasya mengangguk. Tapi tak sampai hitungan menit, wajahnya langsung berubah masam.
“Tapi dia tu brengsek!” hujatnya, Ditya tak percaya, cowok seperti Ido diumpatin ‘brengsek’? ga salah? Banyak fansnya yang rela mati berdiri demi mendapat perhatian bintang basket itu.
“Brengsek gimana?”
“Brengsek pokoknya! Okelah…Badannya kekar, perutnya sixpack gitu. Tapi itu loh..gebleknya minta ampun! Masa ngajak jalan cewek semanis ini ga nraktir makan? Plis deh, Dit..dimana gentlenya coba!” curhatnya bersungut-sungut. Ditya mengangguk-angguk paham.
“Emm…tapi, Dit…aku nemu ‘barang’ baru lagi nih…yah, meski perutnya cuma sebatas backpack- rata gitu, tapi orangnya baik, ramah pula…Heran deh, kenapa ya semuanya kayak setengah-setengah gitu. Ga ada yang perfect sekalian!”
Ditya geleng-geleng melihat kenaifan Chasya,” Denger ya, Sya.. Manusia di dunia ini ga ada yang sempurna. Ada Si Ido, keren, cakep tapi geblek…ada lagi si backpack-mu itu yang ga jelas tapi katanya ramah plus baik hati. Balance…kalo ada yang perfect, bukan manusia tuh namanya…Malaikat!” Ditya berceramah panjang lebar, alhasil, Chasya pun berkesempatan menghabiskan wafel yang juga merupakan bagian Ditya.
“Loh, wafelnya kok habis,” Ditya garuk-garuk kepala, perasaan dia belum mencicip makanan tadi secuil pun.
“Iya ya…sapa yang makan?” seperti angin lalu, ceramah Ditya terlewat begitu saja, topik mereka berganti kearah wafel misterius yang tiba-tiba raib itu. Chasya- sang oknum malah pura-pura bego ga pengin terlihat sebagai pelaku utama insiden tadi.
“Chasya! Plis deh! Kamu habisin ‘ndiri!” Ditya yang tersadar akan remah-remah wafel di bibir Chasya langsung cemberut, sang oknum terkikik geli dan akhirnya menebus dosa dengan membelikan tahu isi sebagai pengganti wafel tadi. Ditya sebenarnya masih ga terima, masa wafel diganti tahu isi? Berhubung tahu isinya digoreng kering, jadi tak membuatnya jerawatan, Ditya pun pasrah saja.
“Nah, Dit…besok aku janjian mau ketemuan sama Doni- si Backpack itu. Dia ngajak nonton,”
“Nonton apa? Wah, seru tuh…di bioskop 21 mana?”
“Uum..emang nonton harus dibioskop ya? Dia ngajak nonton Discovery Channel di rumahnya kok.”
Seperti ada geledek di siang bolong, Ditya lagi-lagi terkena serangan jantung akibat kaget.
“Ha? Discovery apa? Gila! Ga modal banget tuh cowok! Masa hare gene nraktir ke bioskop aja ga mau?!” Umpatnya. Chasya langsung mengibaskan tangan tak terima, “Ditya sayang…Ini namanya unik! Bukan ga modal! Jarang banget kahn ada cowok yang memerhatikan pengetahuan kayak dia…daripada punya cowok geblek yang hobinya nongkrong aja…” Sembari membentuk ‘peace’ di jarinya, Chasya juga membela gebetannya setengah mati. Ditya kalah telak dan meng-iya-kan saja kata-kata Chasya.
“Yaudah deh, have fun aja, inget kalo ada adegan yang ga-ga, ditutup aja matanya..” Ditya memberi nasehat, otomatis Chasya terpingkal sampai sakit perut.
“Hah? Adegan apaan? Buaya kawin? Plis deh, Dit! Discovery channel tu dokumenter kale…ga mungkin ada adegan lah! Kemana aja sih! Hare gene…” Chasya membalas Ditya, tentu saja wajah gadis berkepang itu langsung merah padam karena malu. Ditya melewatkan penjelasan singkat Chasya yang memuji Doni akan hobiya nonton wahana pengetahuan tersebut. “Ehem..Ya deh, terserah! Pokoknya ati-ati aja!” Seperti kehabisan stok kata, Ditya memilih diam saja daripada salah bicara lagi.
***
Seperti yang dijanjikan, Doni benar-benar mengajak Chasya nonton Discovery Channel di rumahnya.
“Duduk sini, Sya..” Doni mempersilakan Chasya menduduki Sofa favoritnya. Tentu saja Chasya menerima dengan senang hati. Mereka pun memulai tayangan Dokumenter tersebut. Pembahasan kali ini adalah beruang. Chasya yang memang rada sensitif itu langsung menitikkan airmata ketika si beruang mati tenggelam akibat gagal berenang pulang karena jaraknya terlalu jauh.
Doni malah tertawa dalam hati melihat kebodohan beruang yang nekat banget berenang, padahal ga punya sirip. Tapi Doni ga pengin bikin Chasya keki, ia pun berakting seolah ikutan sedih. Diluar dugaan, Chasya meminjam pundak Doni untuk menangis saking sedihnya. Dalam hati, Doni menjerit bahagia dan bersyukur akan tayangan yang mengakibatkan Chasya nangis Bombay kemudian bersandar padanya itu.
Setelah berjam-jam menikmati tayangan tadi. Chaysa pun pamit pulang karena hari sudah beranjak gelap. ”Sya, aku sayang kamu…Kamu mau ga nemeninku terus sampai waktu yang memisahkan kebersamaan kita..” ujar Doni tiba-tiba ketika hendak mengantar gadis itu pulang. Tentu saja Chasya belum siap memberikan jawaban atas request mendadak Doni. Ia pun menjanjikan akan menerima ataukah menolak cinta Doni dalam beberapa hari kedepan.
***
Ternyata, nasib baik berpihak pada Chasya, tidak hanya cinta Doni yang didapat. Ido juga menyatakan hal yang sama padanya. Tentu saja Chasya bingung memilih salah satu diantara mereka berdua. Semuanya sama-sama keren. Sama-sama punya kekurangan juga. Benar juga kata Ditya, Nobody’s perfect. Kali ini Chasya harus berpikir keras untuk memilih yang terbaik baginya.
***
“Dit! Buruan kerumah ya, aku mau cerita banyak! Aku baru jadian..” Chasya menelepon Ditya agar segera kerumahnya. Ditya sih oke saja, ia pun segera meluncur ke kediaman Chasya.
***
“Ada apaan, Sya…Penasaran deh! Kayaknya seru gitu! Gimana? Sama siapa jadiannya?” Ditya memberondong Chasya dengan berbagai pertanyaan.
“Gini loh, Dit..Jadi, sebenernya, Aku tuh ditembak keduanya..”
“Sumpaaaah?! Pada buta apa?!” Ditya benar-benar tak habis pikir. Karena Chasya tak terlihat istimewa sama sekali di matanya.
“Ye! Ngiri banget sih! Ya bener lah..”
“Terusss…milih yang mana…duh, kasih aku satu donk!”
“Haha….Gak bisa donk say…soalnya, kahn semuanya kuterima…”
Kali ini Ditya benar-benar ingin sesegera mungkin memeriksakan pendengarannya ke dokter THT terdekat. “Ga salah denger ni? Kamu…..terima semua?”
Chasya mengangguk pasti. “Jadi aku pikir, Ido si Sixpack kahn sayang kalo ditinggal gitu aja, padahal yang doyan aja banyak..Nah, Si Doni juga meski ga oke-oke amat, tapi terlalu baik untuk dicuekin….yaudah..berhubung mereka ga saling kenal juga. Kenapa ga diterima aja dua-duanya. Rejeki kok ditolak..” Chasya berlagak seperti ‘Betina Tangguh’ dengan nekat menjalin hubungan bersama dua cowok pencintanya.
“Maruk! Kuwalat baru tau rasa!” Ditya tak terima karena dia saja jomblo, gimana bisa sohibnya malah dapet dua cowok sekaligus.
“Ditya sayaaang…Seperti yang kamu bilang kahn, Nobody’s Perfect, Yaudah..diambil dua-duanya..digabungin…Jadi Perfect deh!” Teori ngawur pun dipakai Chasya untuk memperkuat alasan mengapa ia memiliki dua cowok sekaligus dalam hubungan percintaannya.
“Chasyaaa!! Plis deh!!”
TAMAT
September 9th, 2008 at 9:57 pm
Hebta benar dikau menulis, dah masuk dunia komersial? Dah dibukuin? Wow ngak salah lagi, luar biasa. Salute.
September 12th, 2008 at 11:03 am
belum kok, sais nggak pernah berani mempublikasikan cerpen saia ini hehehe……
** kecuali di lovonline tentunya **
October 9th, 2008 at 4:05 pm
wah, kisahnya menarik, memotret banyak kejadian dan fenomena sosial, lengkap dengan gaya hidup masyarakatnya, cerita bersambung yang layak utk dibukukan. salam kreatif.