Senandung Dalam Karunia ILLAH

Fatimah mencengkeram erat jilbab yang melingkari kepalanya.

Nafasnya beradu, peluhnya mengalir sederas airmata yang menggenangi pelupukknya.

Pandangannya kosong selain hanya menatap paras menyeramkan yang mencoba ‘mengotori’nya.

“Paman, apa yang kau lakukan…” ia meringis sakit setelah kepalanya dibenturkan oleh pamannya. Jilbab yang semula menutupi kepala dan dada itu terenggut paksa. Fatimah merasa dipermalukan.

Lelaki paruh baya itu hanya memandang penuh nafsu dengan tidak memerhatikan kesakitan yang diderita gadis senasab dengannya itu. Kedua lenganya melingkar kukuh ditubuh mungil keponakannya itu dengan paksaan dan benturan sewaktu-waktu jika gadis itu memberontak.

“Aku hanya ingin bayaran, sedikit saja..” Desahnya ke arah telinga Fatimah. Gadis itu gemetar penuh ketakutan, sebentar-sebentar ia melafadzkan ‘ALLAH” dalam diam. Meronta pun tak menghasilkan apa-apa selain hantaman pada pelipisnya, kepalanya sebentar-sebentar dihantamkan ke tembok.

Fatimah miris, ia tak habis pikir, Paman yang selama ini mengasuhnya, membesarkannya setelah kedua orang tuanya meninggal menjadi aneh begini. Bibi yang memang sejak semula tak senang dengan keberadaan Fatimah tiba-tiba meninggalkan mereka karena sang suami lebih memilih Fatimah daripada istrinya sendiri.

“Tubuhmu..ya, tubuhmu itu..” Pandangannya tiba-tiba beralih memerhatikan kemolekan tubuh gadis yang memang mengusik pikirannya. Ya, pikiran setiap lelaki pada umumnya.

Fatimah hanya bisa pasrah, “Paman..tolong, aku masih suci, paman..jangan kau kotori aku…” ia terisak dengan memohon kewelasasihan pamannya.

“Tidak! Kau tidak suci, Fatimah!” Pamannya menghardik, berteriak dengan mata memerah. Yah, pamannya mabuk.

Astagfirullah, Paman…Sadar, sadar..Paman sedang mabuk, paman sedang dipengaruhi setan!”

“Setan! Peduli apa setan! Aku Setan! Yah, Setan! Aku setan yang telah merenggut kegadisanmu sejak kau berumur 3 tahun, Fatimah…Aku mengadopsimu untuk melampiaskan nafsu…! Yah, Aku setan! Tapi Istriku lebih Setan! Setannya setan! Hahaha! Dia bahkan tidak pernah tidur denganku sewaktu tahu bahwa kau pernah aku tiduri! Oh…jadi, setannya kamu, Fatimaaah!!!”  Ucapan seorang yang mabuk itu menohok sanubari Fatimah. Perlahan, memorinya berputar mengingat-ingat kejadian-kejadian yang  berlangsung ketika ia masih kecil.

Fatimah ingat pernah dimandikan oleh pamannya tapi tiba-tiba ia merasa kesakitan setelah ada sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya, entahlah. Ia masih belum tahu sesuatu itu sampai sekarang, baru ia sadari bahwa dirinya telah diperkosa.

“Paman..teganya..kau..” Airmata dan kepiluan gadis itu tak terbendung.  Ia merasa malu. Ia benar-benar merasa terlaknat. Bahkan untuk menyandang jilbab saja ia tak kuasa. Pikirannya yang semula mengingat ‘ALLAH” lenyap sudah.

Dirinya telah ternodai.

Bahkan, untuk berbuat dosa terbesar pun ia tak memendam kecemasan lagi.

“Fatimah! Kau sudah kotor! Sudahlah! Senangkanlah pamanmu ini! Toh, nanti juga aku yang membiayaimu! Kau sudah tak punya siapa-siapa lagi”

Bujukan pamannya agaknya cukup meyakinkan Fatimah bahwa apa-apa yang akan dia lakukan tiadalah menuai dosa.

Fatimah sudah tak mengenal dosa semenjak pamannya menceritakan bahwa selama ini ia sudah tak perawan lagi. Untuk bertatap muka dengan teman terdekatnya pun ia sudah tak sanggup. Dunianya seakan sudah berakhir.

“Fatimah..Kemarilah, senangkanlah pamanmu..”

Dirinya yang semula benar-benar tunduk dan patuh dengan segala Syari’ah Islam, sampai bertemu dengan Rozak hanya sebatas dirumah didampingi oleh pamannya, kini seakan sudah tak punya pegangan.

Fatimah telah rapuh dan tak menolak untuk diperbudak setan sekalipun.

Jarak yang diciptakannya dari sang paman kian berkurang. Tubuhnya yang semula meronta penuh perlawanan kini lemah tak bertulang. Ia menuruti semua yang diperintahkan oleh pamannya,

Sampai..

Terlintas sesuatu,

Ia menghempaskan tubuh pamannya menjauhinya.

“Tidak! Aku tidak kotor! Kau yang kotor! Yah, kau yang mengotori aku! Aku tidak tahu apa-apa waktu itu! Aku belum baligh! Dan terlaknatlah aku oleh ALLAH jika aku menurutimu sekarang ini. Aku hanya korban kebiadapanmu saja! Kau yang berdosa! Dan kau yang akan dipenjara, Paman! Aku tidak takut apapun, biarlah kau tak membiayaiku, biarlah kau tak memberik makan. ALLAH AZZA WA JALLA! Hanya Ia yang ku takuti! Kau bukanlah Tuhanku! Aku tak perlu tunduk padamu!”

Dengan cepat ia melarikan diri medobrak jendela, terluka akibat serpihan-serpihan kaca yang menyayat kulitnya tak diperhatikan. Niatnya yang kuat untuk lari sejauh mungkin dari tempat terkutuk itulah yang menyebabkannya mati rasa.

Fatimah hanya berlari dan berlari sampai ia mendapati dirinya sudah berada di rumah orang yang sangat ia percayai.

Ia pun menceritakan pengalaman yang menimpanya itu dengan isak tangis yang hebat. Badannya terguncang.

Maksud hati ingin memeluk dan meredakan tangis pun tak bisa dilakukan . Mereka bukan pasangan yang syah dan terlarang dalam ajaran agama. Dipanggilnya Sa’adah, adiknya sebagaii pelipur sang pujaan  hati, menjadi tangan kedua dari maksud yang menggerogoti keinginan nafsunya.

“Fatimah, sudahlah, kau tak perlu menangis..itu bukan salahmu” Rozak kemudian member Fatimah sesuatu untuk mengusap airmata gadis itu. Ia  sungguh tak tega melihat gadisnya menderita tekanan batin seperti itu. Ia bersumpah atas nama ALLAH bahwa Pamannya akan diproses secara hukum dan tiada bersusah  lagi Faitmah.

“Astaghfirullah…Astaghfirullah..” Masih dengan isak tangis Fatimah beristighfar.  DIpererat pelukan Sa’adah yang senantiasa memberinya kehangatan dalam dinginnya pikiran yang menusuk kalbunya itu.

“Aku tidak pantas menjadi istrimu..tidak pantas, Zak”

Astagfirullah, Fatimah, tidaklah semestinya muslimah sepertimu berbicara seperti itu. Aku tetap akan menikahimu, apapun yang terjadi. Kita sudah tertaut ikatan batin, tiadalah yang bisa memisahkan hatiku darimu kecuali kiamat sughra atas kehendak ALLAH” Ikrar Rozak benar-benar membuat Fatimah merasa tersanjung, ia malu, bahwa ia telah meragukan perasaan Rozak. Pemuda beralis tebal dan masih seorang santri dengan hidupnya yang sederhana itu benar-benar membuatnya bersyukur atas karunia ALLAH.

Entah apa yang bisa ia lafadzkan selain Subhanallah dan Alhamdulilah.

“Aku malu dengan…..Umi..” Pikiran mengenai orangtua Rozak mengusik. Kali ini Rozak benar-benar meyakinkan calon istrinya it bahwa orang tuanya akan menyetujui apapun keputusan Rozak, selama wanita yang dinikahinya seiman dan bisa diajak hidup bersama.

“Kau sudah tak perawan, itu bukan kesalahanmu. Itu adalah bagian dari ujian yang diturunkan ALLAH padamu, janganlah kau merasa menyesal atasnya. Syukurilah apa yang bisa kau perbuat sekarang. Bukankah akhirnya kau berkeberanian untuk melaksanakan yang benar sehingga pamanmu bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya? Berbahagialah atas itu, jangan bersedih atas apa yang telah terjadi. Jalanmu masih panjang. Jalan kita…”

Digenggamnya tangan Rozak dengan kain yang membatasi sentuhan kulit meraka, lalu dikecupnya layaknya seorang istri yang patuh pada suaminya.

“Agaknya aku sudah tak sabar untuk menjadi pendamping yang bisa engkau manja dengan kasih sayangmu. Kau sungguh pemuda yang berhati mulia..”

Titik-Titik airmata mengalir pelan di pipi Rozak.

Ia juga memendam perasaan yang sama seperti apa yang diutarakan Fatimah.

Benih-benih cinta yang selama ini mereka jaga rupanya dapat bersemi sebagaimana mestinya ehingga tiada sampai layu maupun rusak akibat perbuatan-perbuatan yang menghasilkan kesenangan sementara. Mereka berpegang pada ajaran agam dan memang begitulah mestinya, cinta yang ada diantara umat manusia.

Sebuah cinta yang tulus, suci..

TAMAT

2 Responses to “Senandung Dalam Karunia ILLAH”

  1. kabarmadura Says:

    great performance and story

    i love you all

  2. suwung Says:

    great blog

Leave a Reply